Serunya Sultan Kanoman Sawer Warga Cirebon

Budaya / Kamis, 01 Desember 2016 00:17 WIB (MP/flo)

MerahPutih Budaya - Ratusan warga mengikuti tradisi Tawurji yang digelar pada Rebo Wekasan atau hari Rabu di akhir bulan Sapar yang berlangsung di Keraton Kanoman, Kota Cirebon, Rabu (30/11).

Warga rela berdesakan untuk mendapatkan saweran tradisi tawurji. Mereka berharap mendapatkan berkah pada akhir bulan Sapar dan menyambut datangnya bulan maulid.

Ratusan warga yang sudah menanti di depan Jinem Keraton Kanoman langsung masuk kedalam Jinem saat Sultan Kanoman ke-XII, Sultan Raja Mochammad Emirudin yang didampingi Pangeran Patih Qodiron dengan dua perwakilan keluarga membawa nampan besar berisi uang recehan.

Sebelum saweran uang receh, Keluarga Keraton membacakan doa Assyuro sambil bersenandung “Tawurji Selamat panjang umur” kemudian Sultan langsung menyawerakn uang receh bercampur beras kepada warga yang hadir.

Sultan Kanoman berikan saweran kepada warga (Foto: MP/Mauritz)

Pangeran Patih Qodiron mengatakan, Keraton Kanoman selalu mengadakan Tradisi Tawurji setiap tahunnya yang bertepan di hari Rabu akhir bulan Sapar. Tawurji ini adalah sebuah tradisi turun menurun dari jaman para wali.

Tawurji ini bermakna untuk mensejahterkanan masyarakat atau warga setempat dan Keraton Kanoman masih menggunakan pepakem tradisi ini.

“Bahwasannya ini adalah keniatan dari seorang pemimpin untuk mensejahterakan masyarakatnya melalui Tawurji ini,” ujarnya..

Sementara itu, juru bicara Keraton Kanoman Ratu Raja Arimbi Nurtina usai tradisi tawurji menambahkan, dilakukan Tawurji bertepatan dengan tanggalan Jawa Rebo Wekasan yang jatuh pada minggu terakhir di bulan Safar.

Warga menyerbu saweran Keraton Kanoman Cirebon (Foto: MP/Mauritz)

Rebo Wekasan diyakini banyak sekali cobaan-cobaan ataupun bencana yang menimpa kita. Sehingga kita dianjurakn untuk bisa berbagi bersedekah kemudian berdoa supaya kita bisa menjalani ujian-ujian tersebut dan terhindar dari bencana.

Tradisi Tawurji juga erat kaitannya dengan mitos dimusnahkannya ajaran Syech Siti Jenar, yang dianggap menyesatkan ajaran Islam. Ketika Syeh Siti Jenar dieksekusi pada bulan Safar 5 abad yang lalu. Maka 40 anak asuhnya menjadi yatim dan telantar.

“Dari tradisi Tawurji ini memberi makna agar masyarakat peduli terhadap fakir miskin, untuk saling berbagi rizki kepada sesama sesuai dengan kemampuan masing-masing,” pungkasnya.(Yhs)

BACA JUGA:

  1. Wisata Religi di Petilasan Sunan Kalijaga, Cirebon
  2. Borobudur Writers and Cultural Festival 2015 Resmi Dibuka
  3. Ulang Tahun PBB, Borobudur "Membiru"
  4. Google Umumkan Street View Pertama Candi Borobudur
  5. Pesona Candi Borobudur

 

(MP/flo)
Sarankan artikel ini

Artikel Terkait Lainnya